Minggu, 09 Juni 2013

KEHADIRAN YANG MEMBERI HARAPAN



Hari Minggu Biasa X Tahun C

Para Saudara,
Pada suatu hari, di suatu daerah, ada pembagian uang zakat oleh seorang kaya raya. Orang kaya raya itu, berdiri dengan bangganya,  menggenggam sejumlah uang, dan membagikannya kepada orang miskin.   Di tengah antrian panjang itu, ada seorang Ibu miskin. Ibu ini dihampiri oleh seorang panitia, lalu memarahinya sambil menyuruhnya keluar untuk membaca petunjuk yang sudah ditempel di depan. Ibu ini tidak mengerti mengapa ia disuruh keluar. Ia pun keluar dan membaca pengumuman yang tertulis: “Yang bertelanjang kaki  dilarang masuk”. Ibu ini memang tidak memakai sandal apa lagi sepatu. Air mata mulai membasahi wajahnya merenungi nasibnya.
Rupanya ada seorang Bapak yang memperhatikan Ibu ini dari tadi dan mengerti persoalannya. Bapak ini mendekati Ibu ini dan berkata: “Mungkin ukuran sandal saya tidak pas untuk Ibu, tetapi Ibu dapat memakainya untuk sementara supaya bisa masuk dan menerima uang zakat itu”.  Lalu Bapak  yang baik itu membuka sandalnya dan menyodorkannya kepada Ibu miskin tadi. Dengan sandal itu, ibu tadi kembali masuk barisan dan mendapatkan uang zakat itu.


Para Saudara,
            Cerita-cerita tentang orang-orang yang memiliki hati yang berbelas kasih dan yang peduli, seperti bapak dalam peristiwa pembagian uang zakat tadi, selalu mengharukan hati kita mendengarnya.  Bacaan-bacaan Kitab Suci  pada hari ini bercerita tentang hal itu. Dalam bacaan Injil tadi, kita mendengar kisah Yesus yang berbelas kasih kepada janda di Naim. Betapa hancurnya hati janda itu: anak satu-satunya yang menjadi harapan hidupnya, mati. Yesus bisa mengerti kepedihan hati janda itu, Ia menghibur  janda itu dengan berkata: “Jangan menangis!”. Kemudian Yesus  membangkitkan anak yang telah mati itu dan menyerahkannya kepada ibunya. Bisa kita bayangkan: betapa bahagianya janda itu. Bagi janda itu, kehadiran Yesus merupakan kehadiran  yang memberi harapan baru dalam hidupnya.

Hal yang sama juga kita dengar dalam bacaan I tadi, kisah seorang janda di Sarfat  yang telah menerima nabi Elia, hamba Tuhan itu. dengan ramah di rumahnya. Semula janda itu merasa bahwa kehadiran Elia di rumahnya hanya membawa sengsara belaka demi mengingatkan dia akan dosa-dosanya. Bagi janda itu jauh lebih baik jika Elia tak pernah dia jumpai dalam hidupnya, karena suka cita yang dibawa oleh Elia hanya bersifat smentara saja: dia dikaruniai anak, tetapi anak itu cepat diambil dari padanya. Tetapi ketika Elia, atas kuasa Allah, menghidupkan anak itu, janda itu sangat bersuka cita.  Akhirnya janda itu menyadari bahwa kehadiran Elia, abdi Allah itu di rumahnya, sungguh memberi harapan  dalam hidupnya.

Para Saudara,
Kedua kisah ini hampir mirip. Dua perempuan mengalami kegembiraan dalam hidupnya oleh kehadiran hamba Allah: janda di Sarfat oleh nabi Elia; dan janda di Naim oleh Yesus sendiri. Kegembiraan mereka yakni karena anak mereka dihidupkan kembali.  Dan itu terjadi bukan karena usaha janda-janda itu, pun bukan karena usaha hamba-hamba itu,  melainkan karena belas kasih dari Allah sendiri. Dalam diri para hamba-Nya, Allah  sendirilah yang mendekati umatnya dan berkata: “Jangan menangis!”. Pada zaman sekarang, ada banyak hal dimana manusia bisa sedih dan menangis karena kesesakan yang dialami setiap hari: kemiskinan, penyakit, peristiwa duka, kemalangan, dlsb.
Setelah beberapa kali ikut mengirim komuni kudus kepada beberapa umat kita yang tidak bisa ke Gereja lagi, sampai di pinggir-pinggir, saya semakin mengerti situasi umat kita. Ada yang fisiknya begitu lemah, tapi masih semangat, ketika kami datang ia meneteskan air mata; ada juga yang tidak bisa ke Gereja karena penyakit yang diderita, tatapi sesungguhnya punya kerinduan untuk bergabung dengan kita; ada juga yang sangat miskin: rumahnya hanya satu ruangan saja: tempat tidur, dapur, tempat barang-barang, dlsb. Dalam situasi kesesakan seperti itu, ucapan yang menyentuh dari Yesus: “Jangan menangis!”, perlu kita lakukan setiap saat; sentuhan kasih dari Yesus, perlu kita bagikan kepada sesama. Betapa indahnya kalau setiap hari kita dapat meringankan  kesedihan dan kesesakan sesama kita; dengan demikian kehadiran kita di mana pun, memberi harapan baru bagi sesama (Sibolga/Katedral/09-06-2013/Sam).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar