Minggu, 06 November 2011

Bendahara Yang Tidak Jujur

Para saudara
Fokus utama kita dalam Injil hari ini terletak pada hilangnya kepercayaan sang tuan kepada hamba atau bendahara yang telah dipercayakan untuk menangani semua harta bendanya. Kesalahan si bendahara adalah tidak jujur: dia menghambur-hamburkan milik tuannya. Hilangnya kepercayaan sang tuan ini berujung pada pemecatan si bendahara itu. Tetapi bendahara ini sangat cerdik: ia memanggil semua orang yang berhutang kepada tuannya, dan memalsukan surat hutang mereka dengan menurunkan jumlah hutang mereka. Jelas bahwa orang-orang yang berhutang itu senang. Dan yang aneh, Yesus justru memuji bendahara itu, karena ia telah bertindak cerdik.
 
Para saudara
Pertanyaan: mengapa Yesus memuji bendahara yg tidak jujur itu? Perlu kita pahami bahwa Yesus tidak mendukung dan membenarkan ketidak-jujuran si bendahara. Yang dipuji Yesus adalah bahwa dalam situasi yang sangat terjepit, si bendahara itu masih bisa bertindak cerdik. Kecerdikannya dimana? Kecerdikannya yakni bahwa ia memilih tindakan yang  membantu dan menguntungkan banyak orang dengan tetap menghargai milik tuannya.
Sebetulnya si bendahara itu bisa saja mengumpulkan orang yang berhutang kepada tuannya, dan menyuruh mereka membayar hutang mereka, lalu uang itu dapat dibawanya lari dengan menikmati sendiri, agar dapat hidup layak . Tapi ini dia tidak mau lakukan. Ia juga dapat mengumpulkan semua orang yang berhutang dan membebaskan  semua hutang mereka. Bila ini yang dia buat, pasti orang orang-orang yang berhutang itu pada senang semua. Tapi kemungkinan ini pun tidak ia lakukan.
Yang dia buat yakni: memanggil semua orang yang berhutang kepada tuannya, dan memalsukan surat hutang mereka dengan menurunkan jumlah hutang mereka. Dengan tindakan ini, meringankan beban orang-orang itu, tidak merampas hak tuannya dan juga menolong dirinya sendiri. Artinya dalam situasi itu, dia masih melihat kepentingan orang lain, meskipun juga ingin dipenuhi kepentingannya. Dinilah kecerdikannya. Ada istilah dalam bahasa Latin yang cocok dengan situasi ini: ‘minus malum’, memilih  tindakan yang terbaik di antara pilihan yg terburuk.
 
Para saudara
Kita tidak perlu ikut-ikutkan perbuatan si bendahara itu. Itu hanya dalam situasi sangat mendesak dan terjepit. Kita kembali pada fokus Injil tadi yakni hilangnya kepercayaan sang tuan kepada hambanya. Ajakan saya kepadamu sebagai saudaraku pada malam ini yakni; “Benarlah bahwa setiap dari kita memerlukan kepercayaan untuk memulai sesuatu. Akan tetapi, bila kepercayaan itu belum datang kepadamu pada saat sekarang, maka tunjukkanlah kesetiaan dan kejujuran dalam segala yang dipercayakan kepadamu. Yakinlah bahwa kepercayaan yang Anda nantikan dan rindukan itu akan datang dengan sendirinya kepadamu jika engkau mau berlaku jujur dan setia dalam tugas dan pekerjaanmu setiap saat.


Katedral/Jumat Pertama/P. Sam GulĂ´/ 04 Oktober 2011/Luk. 16:1-8

Tidak ada komentar:

Posting Komentar