Minggu, 17 Juni 2012

Kerajaan Allah Seperti Biji Sesawi


Hari Minggu Biasa XI Tahun B

Para saudara,
Puluhan tahun silam, ketika mendiang Paus Yohanes Paulus II, berkunjung ke Korea Selatan, dalam rangka Misa Agung Kanonisasi 103 martir Korea, ada peristiwa yang sangat istimewa dan  langka. Pada waktu itu, sepasang suami istri maju mendekati Bapa Suci, membawa persembahan sepasang burung merpati putih sambil membawa bayi mereka, dalam pakaian tradisional Korea. Sambil menitikkan air mata haru, sang ibu dengan lembut  menempatkan bayinya itu ke pangkuan Bapa Suci. Sri Paus mengangkat anak itu, mendekapkannya ke wajahnya, lalu dengan penuh  kebapaan mencium pipi bayi itu.
Sang bayi sama sekali tidak menyadari peristiwa apa yang terjadi, ia sedang tertidur pulas. Ia tidak sadar  bahwa ia menerima kehormatan istimewa dan langka. Istimewa dan langka karena dialah satu-satunya,  diantara jutaan bayi di seluruh dunia saat itu, yang seusia dengan dia, boleh menerima kecupan dan ciuman dari Sri Paus. Peristiwa itu direkam dan diabadikan oleh ratusan kamera, televisi dan video.


Para saudara,
Bacaan Injil pada hari ini berbicara tentang Kerajaan Allah. Kita tahu bahwa perihal Kerajaan Allah, merupakan sesuatu yang misteri, hanya bisa dipahamai dengan lambang-lambang, simbl-simbol dan perumpamaan-perumpamaan. Yesus sendiri sebagai seorang yang sangat pandai mengajar, ketika Dia menerangkan apa itu Kerajaan Allah, Ia memakai perumpamaan. Ia berkata: Kerajaan Allah itu seumpama seorang penabur benih dan; Kerajaan Allah itu seperti biji sesawi. Seperti seorang penabur benih, tidak tahu bagaimana tumbuhnya benih itu, tetapi tahu-tahu ia tumbuh, bertunas dan menjadi besar serta menghasilkan buah. Demikian pula halnya dengan biji sesawi: pada mulanya biji yang sangat kecil, tetapi setelah bertumbuh dan menjadi besar, burung-burung pun dapat bersarang di atasnya. Babagimana proses bertumbuh benih atau biji itu, dari kecil menjadi besar, tidak diketahui oleh sang penabus itu.
Kurang lebih seperti itu juga apa yang dialami oleh sang bayi tadi: ia tidak menyadari peristiwa apa yang sedang terjadi, mungking suatu saat kalau ia membolak-balik album foto peristiwa itu, ia antara percaya dan tidak, tapi peristiwa itu sendiri adalah nyata, disaksikan oleh orang tuanya, ratusan wartawan dan terekam dalam foto-foto dan media elektronik lain.
Para saudara,
            Ini berbicara tentang iman kita sendiri. Iman kita kepada Tuhan, awalnya juga seperti kisah seorang penabur benih, seperti biji sesawi atau seperti penghalaman sang bayi tadi Korea Selatan. Pada awalnya kita tidak mengenal Tuhan atau baru berkenalan dengan Dia. Tetapi dalam perjalanan hidup, bila iman kita kembangkan, maka pelan-pelan akan menjadi kuat dan menghasilkan buah iman yang menakjubkan. Hubungan kita dengan Tuhan yang awalnya belum jelas, tetapi  bila terus dipupuk dan dipelihara,  maka akan berkembang dan suatu saat kita akan merasakan  dan menikmati buahnya.
            Maka yang penting dalam perkembangan iman seperti itu adalah bahwa kita terus memupuk dan memeliharanya. Pupuknya tentu bukan pupuk urea, bukan pupuk organik atau an-organik, tetapi usaha keras kita untuk terus-menerus  mau bekerja sama dengan rahmat Tuhan,  mau diubah oleh-Nya.  

Para saudara,
Dulu ketika saya masih kuliah di seminari tinggi, atau frater, saya mempunyai kesulitan untuk berbicara di hadapan umum, saya seorang pemalu, hampir-hampir saya mundur dan tidak mau meneruskan lagi panggilan saya.  Saya menyadari bahwa menjadi pastor harus berkotbah, berpidato, mengajar, dlsb. Kalau tidak punya keberanian berdiri di hadapan umum, bagaimana bisa menjadi pastor? Tetapi atas bimbingan para dosen dan staf seminari, saya latihan terus dan terus berlatih, kadang di depan cermin, atau di kamar pura-pura berbicara di depan massa, dan al hasil setelah menjadi pastor, masalah itu sudah bisa teratasi, sehingga saya bisa berdiri dan berbicara di hadapan anda, seperti sekarang ini.
Pada hari ini kita melantik dan memberkati para pengurus Lingkungan Sibolga Julu. Beberapa di antara mereka berkeluh-kesah: pengetahuan kekatolikan masih minim, tidak biasa membawa renungan, dlsb. Saya katakana: tak usah sangsi, ini proyek Kerajaan Allah. Kalau anda tekun dan sabar untuk berlatih dan terus berlatih, serta mau belajar, membaca buku dan mengikuti pertemuan, Roh Kudus akan bekerja dengan sendirinya.
Demikian juga halnya kita semua, ketekunan untuk terus memupuk dan memelihara iman kita. dari hari ke hari adalah penting untuk pertumbuhan iman itu sendiri. Doa yang tekun sambil membiarkan diri dipimpin oleh Roh, akan menjadi pupuk penyegar  pertumbuhan  iman kita. Kita tidak tahu cara kerjanya, karena ini proyek Roh Kudus, proyek Kerajaan Allah. (Katedral/P. Sam Gulô/17-06-2012).***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar